Al-Qur'an merupakan kitab umat islam, yang dipahami selama ini sebagai Kalamullah dan juga sebagai mukjizat Nabi Muhammad yang paling agung, ternyata mengandung suatu hal yang menarik apabila kita mengkaji lebih dalam apa yang terkandung dalam Al-Qur'an. Salah satu hal yang menarik yakni adanya hal positif yang bersumber atau yang dirasakan ketika kita membaca Al-Qur'an. Bahkan hal tersebut dapat dirasakan pun ketika kita hanya sebatas membaca Al-Qur'an. Apalagi sampai mengetahui makna ayatnya atau bahkan sampai kita mentadabburi ayat ayat Al-Qur'an. Ketika kita membaca Al-Qur'an dengan tanpa melibatkan hafalan, itupun juga dapat menimbulkan perasaan bahagia yang menyebabkan tampaknya aura positif dari seseorang setelah membaca Al-Qur'an.
Nah, dari inilah saya memiliki pendapat, bahwasanya terdapat salah satu hal yang menarik dari hal tersebut. Apalagi perasaan bahagia yang timbul itu, bisa dirasakan seolah olah tanpa sebab. Maka untuk itu saya mencoba menganalisis sumber dari munculnya perasaan bahagia tersebut. Ternyata hal itu bisa dijawab dengan ilmiah dengan memakai 2 pendekatan, yakni dari pendekatan ilmu umum atau filosofis, yang kedua dengan pendekatan ilmu agama atau teologis dan religius.
Jadi tanpa kita sadari, bahwasanya ketika kita membaca Al-Qur'an bahkan pun dengan tanpa melibatkan hafalan, sejatinya kita sudah melibatkan fungsi dari 2 unsur, yakni unsur otak dan unsur hati. Nah secara langsung, dan tanpa sepengetahuan kita ketika seseorang membaca Al-Qur'an, dari unsur otak dan hatinya ikut berperan, Yang mana dari otak dapat menangkap pengetahuan yang terdapat dalam Al-Qur'an yang dinamakan wahyu. Wahyu di dalam Al-Qur'an ini juga mencakup dari berita, kisah-kisah dan juga hukum hukum syari'at. Serta perlu diketahui, wahyu itu dalam filsafat ilmu juga termasuk dari sumber pengetahuan. Setelah adanya sumber rasionalisme dan empirisme.
Jadi dalam peran otak ketika seseorang membaca Al-Qur'an, sejatinya ia sudah memfungsikan porsi otak dengan optimal. Apalagi dibantu dengan ketepatan bacaan dengan ketelitian huruf hingga hukum tajwid. Kemudian point yang kedua yakni adanya sumber atau pengaruh dari hati. Seperti halnya apa yang saya jabarkan diatas, ternyata ketika seseorang membaca Al-Qur'an setelah itu muncul perasaan bahagia dalam dirinya, secara tanpa sadar hati juga ikut difungsikan dengan optimal. Sehingga hati bisa bekerja sebagaimana mestinya. Dalam fungsi hati ketika seseorang membaca Al-Qur'an, secara tanpa sadar hati dapat mengaktifkan intuisi spiritualnya atau biasa disebut dengan الذوق. Kemudian hal demikian juga didukung dengan adanya proses dalam hati yang menangkap makna makna eksistensial dalam Al-Qur'an, sehingga dari makna terdalam itu akan merasakan kehadiran ilahi ketika seseorang membaca Al-Qur'an. Maka dari itu, peran hati ketika seseorang membaca Al-Qur'an, ia menjadi backup ataupun sebagai penguat dari peran pikiran yang juga diikutsertakan dalam membaca Al-Qur'an. Sehingga apabila diambil contoh ketika seseorang mencicipi masakan, maka fungsi otak akan mencari komposisi yang pas. Lalu apabila menurut otak sudah memenuhi komposisi, maka dengan dicicipinya makanan itu muncul suatu kepuasan terhadap cita rasa yang berasal dari makanan yang dimasak. Dan hal itu bersumber dari hati. Begitupun sama halnya ketika seseorang membaca Al-Qur'an. Disamping peran otak menangkap pengetahuan yang bersumber dari ayat ayat Al-Qur'an, baik itu dari berita berita, kisah maupun hukum hukum syari'at, kemudian hari bisa dijadikan sebagai penguat untuk memahami makna makna eksistensial yang ada pada Al-Qur'an. Kemudian dari sini dapat disimpulkan, peran otak dan hati ketika seseorang membaca Al-Qur'an muncul sebuah kolaborasi diantara keduanya yang terarah dan sinkron.
Nah setelah kita memahami pemaparan diatas dari segi ilmiah, maka dengan itu saya berusaha memberikan tambahan landasan sebagai penguat yang bersumber dari aspek religius dan teologis. Pada aspek tersebut saya mengacu terhadap ayat Al-Qur'an yang berbunyi
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا
بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ.
Yang artinya: orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.(QS.Ar-Ra'd:28)
Pada ayat tersebut saya jadikan landasan penguat dari segi perspektif teologis atau religius, dikarenakan pada ayat tersebut terdapat suatu penafsiran yang ternyata masih relevan dengan pemaparan diatas yang berasal dari perspektif ilmiah. Dan dari penafsiran tersebut saya mengambil redaksi dari tafsir qurthubi sebagai berikut:
(وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ) أَيْ تَسْكُنُ وَتَسْتَأْنِسُ بِتَوْحِيدِ اللَّهِ فَتَطْمَئِنُّ، قَالَ: أَيْ وَهُمْ تَطْمَئِنُّ قلوبهم على الدوام بذكر الله بألسنتهم، قاله قَتَادَةُ: وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَقَتَادَةُ وَغَيْرُهُمَا: بِالْقُرْآنِ. وَقَالَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ: بِأَمْرِهِ. مُقَاتِلٌ: بِوَعْدِهِ. ابْنُ عَبَّاسٍ: بِالْحَلِفِ بِاسْمِهِ، أَوْ تَطْمَئِنُّ بِذِكْرِ فَضْلِهِ وَإِنْعَامِهِ، كَمَا تَوْجَلُ بِذِكْرِ عَدْلِهِ وَانْتِقَامِهِ وَقَضَائِهِ.
[القرطبي، شمس الدين ,تفسير القرطبي ,9/315]
Para mufasir menjelaskan bahwa dzikir pada ayat tersebut juga mencakup membaca Al-Qur’an, mengingat janji dan perintah Allah, serta merenungi karunia-Nya. Dengan demikian, reaksi emosional berupa ketenangan, bahagia, dan kedamaian batin yang dirasakan ketika membaca Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang kebetulan, melainkan konsekuensi alami dari interaksi antara wahyu ilahi dengan dimensi batin manusia, yang secara fitrah memang diciptakan untuk merespons kebenaran dan cahaya ilahi.
Jadi bisa kita ambil suatu kesimpulan, apabila mengacu terhadap pendekatan teologis melalui tafsir qurthubi yang dipaparkan diatas, maka kita akan memahami bahwasanya ketika seseorang membaca Al-Qur'an maka ada sebuah hubungan sebab akibat atau yang disebut dengan hubungan kausalitas. Jadi seseorang yang sedang membaca Al-Qur'an tanpa melalui penelitian pun, apabila mengacu pada penjelasan tafsir qurthubi diatas maka akan dapat memunculkan perasaan bahagia dari reaksi hati yang menangkap makna ayat mengenai perintah perintah, perjanjian Allah ataupun berita berita hari akhir. Maka dari cara kerja otak dan hati ketika seseorang membaca Al-Qur'an, ada sebuah kerja sama yang serasi antara keduanya sehingga menghasilkan koherensi batin antara makna rasional dan makna eksistensial. Sehingga dari kerja sama keduanya yang saling beriringan itu, akan memunculkan integrasi epistemik antara akal, hati dan wahyu. Untuk itu saya kira perlunya kita menganalisis hal demikian. Dikarenakan ternyata hipotesis mengenai fenomena seseorang yang membaca Al-Qur'an akan merasakan perasaan bahagia yang datangnya nya tanpa sebab itu, dapat terjawab dengan penelitian yang dapat mengkolaborasikan 2 pendekatan yakni dari pendekatan ilmu umum atau filosofis dan dari pendekatan ilmu agama atau teologis. Dari analisis tersebut, hal itu cukup menjawab bahwasanya ternyata hubungan antara ilmu agama dan ilmu umum ternyata dapat berjalan beriringan dengan tanpa menafikan unsur transenden yang terdapat pada agama islam. Sebuah closing statement untuk menutup tulisan ini yaitu: psikolog itu mahal, makanya Allah menurunkan Al-Qur'an.
Penulis: M. Alvin Faiz
Sumber literatur diambil dari: https://catatantafsiralquran.blogspot.com/p/qs-ar-rad-13-28.html