Banyak sekali orang yang menggemari kegiatan satu ini, mulai dari anak kecil, dewasa, hingga orang tua—semuanya cinta akan buku. Membaca adalah kegiatan yang sangat efektif untuk mendorong pertumbuhan otak. Dengan membaca, seseorang mampu memiliki analisis yang lebih tajam terhadap dunia di sekitarnya.
Mengingat wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad adalah Iqra’—bacalah. Ini sudah menjadi pendukung yang sangat konkret tentang betapa wajibnya kita untuk membaca segala apa yang terjadi di alam raya ini. Itulah mengapa topik ini terasa penting untuk diangkat kembali. Seenggaknya, bisa menjadi pengingat bagi kita semua agar nggak lupa dengan perintah Allah yang pertama ini.
Namun, ada beberapa hal penting yang sering kali kita abaikan. Membaca bukan hanya sekedar membaca, perlu ada langkah langkah yang kemudian bisa menumbuhkan nalar kritis kita lebih cepat. Barangkali berkenan, saya akan menuliskannya disini. Anda bisa siapkan kopi dengan sebatang rokok untuk menikmati.
Banyak dari kita, termasuk saya sendiri, ketika membaca sering terpaku pada satu perspektif saja. Akibatnya, fanatisme kerap dijadikan tameng saat kita disodori sebuah problem. Saya kira, kata fanatisme cukup tepat digunakan, sebab di dalamnya selalu ada unsur egoisme yang berlebihan.
Terkadang, hal ini justru merusak nalar kritis kita, sebab perspektif yang kita anggap benar belum tentu cocok diterapkan pada setiap problem. Lantas, apakah kita perlu menolak semua perspektif? Owh, ya nggak dong. Semua perspektif seharusnya bermuara pada nalar kritis kita sendiri.
Nah, membaca bukan hanya sekedar menerima dengan lapang dada. Bisa saja—kemudian kita bandingkan segala perspektif itu menjadi sebuah satu kesimpulan yang pas. Kalau bicara tentang hal ini saya malah teringat dengan rekaman dokumenter ketika Bung Karno di tanya oleh wartawan asing.
Ketika itu, Bung Karno pernah ditanya perihal ideologi politiknya—ikut mazhab siapa sebenarnya beliau. Ada wartawan yang menganggap Bung Karno beraliran Marxisme. Namun beliau mengelak anggapan tersebut, lalu menjelaskan bahwa dirinya tidak sepenuhnya mengikuti ideologi mana pun. Beliau hanya mengambil satu benang merah dari berbagai ideologi politik yang dicetuskan para tokoh dunia, kemudian meramunya sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia.
Umumnya, bertanya itu memang kepada makhluk yang bisa menjawab, karena akan ada sensasi dialog yang dapat di rasakan. Tapi ternyata setiap pertanyaan tidaklah harus dijawab dengan verbal atau semacam dialog dua orang yang saling bersahutan.
Terkadang, kita perlu menciptakan jawaban atas pertanyaan kita sendiri dengan cara mencari. Mencari juga menuntut pertimbangan: sejauh mana jawaban ini rasional dan mampu memuaskan segala pertanyaan kita.
Saya yakin jika kita semua menerapkan hal ini, kita akan tiba pada sebuah skeptis: Namun skeptis yang sehat, tidak berhenti pada keraguan, melainkan bergerak menuju sikap kritis dalam menimbang, menguji, dan memahami setiap perspektif.
Pola bertanya sangat dianjurkan ketika kita sedang membaca. Ini akan membantu kita untuk lebih dalam menelusuri dan lebih matang untuk memahami. Jadi siap siaplah menjadi orang gila ketika membaca hehehe. Canda gila.
Bagian terakhir yang tak kalah penting membaca buku untuk menumbuhkan nalar kritis adalah “meringkas”. Meringkas merupakan cara efektif untuk menangkap ide pokok dari si penulis. Kalau kata Bang Raditya Dika sih, si penulis buku bisa bertahun tahun menuangkan ide dalam tulisannya. Kita hanya butuh waktu yang singkat untuk melahapnya.
That simple bro, hanya bermodal 100 ribu kita udah bisa menikmati pikiran si penulis dengan waktu yang sebentar. Maka dari itu, kita juga punya waktu untuk meringkas pikirannya. Yang simpel aja meringkasnya. Misal, tulis ulang ide pokok dari buku tersebut dengan bahasa kita sendiri.
Atau, kita bisa menuangkannya lewat tulisan opini atau artikel sederhana seperti ini. Semisal, kamu bisa tuliskan apa isi buku tersebut, tanggapannya bagaimana, kelebihan dan kekurangannya seperti apa, kita bisa uraikan dengan menarik.
Hanya berbekal kopi dan satu batang rokok insyaallah satu tulisan selesai. Atau yang perempuan bisa ditemani dengan segelas matcha dan cemilan ringan untuk satu tulisan.
Jadi, meringkas adalah cara jitu untuk menumbuhkan nalar kritis. Lalu dari situ kita juga bisa menghubungkan ide ide lain yang sebelumnya sudah diketahui. Yuk, tunggu apa lagi, mari membaca dan menulis.
Penulis: Kacong Syauqi