Menjadi seorang mahasiswa sangatlah menyenangkan. Duduk di kelas, mendengarkan dosen yang sedang ceramah mata kuliah, kemudian pulang dengan beban tugas yang nggak sedikit. Dan siklus itu terus menerus berputar hingga empat tahun lamanya.
Pertanyaannya, apakah itu cukup? Menurut saya pribadi, “enggak”. Dari pengalaman sekarang, saya jadi banyak menelaah masa lalu ketika masih menjadi seorang mahasiswa. Saya sempat berpikir, kalau dulu saya tidak mengambil keputusan itu, mungkin saya tidak akan bisa berada di titik seperti sekarang ini.
Ya, semua hal itu ada di luar kampus. Maksudnya adalah organisasi. Menjadi mahasiswa tidak melulu tentang masuk kelas kemudian pulang ke kos dan mendarat di sebuah warkop. Banyak sekali hal-hal yang bisa kita lakukan di luar itu. Dan tentu, nantinya bisa menjadi bekal saat sudah terjun di kehidupan masyarakat.
Ada beberapa poin kenapa berorganisasi sangatlah penting bagi mahasiswa. Barang kali saya bisa menjabarkannya dalam artikel sederhana ini. Jadi, monggo anda bisa menikmatinya dengan secangkir kopi dan rokok Fajar Berlian kesukaannya Yusup.
Mungkin dari subtema di atas, apa yang saya utarakan ini kurang pas, tapi begitulah kenyataannya. Banyak yang mengira bahwa pelajaran yang ada di kampus sudah sangat cukup untuk menunjang lika-liku kehidupan di masa mendatang. Di sisi lain emang betul, tapi tidak semua tepat.
Percayalah, ketika kita sudah terjun di masyarakat, kita tidak akan ditanyakan perkara statistik atau teori-teori njlimet yang biasa kita dengar di dalam kelas. Namun tentang, apakah kamu bisa berbaur dengan kami tanpa berlagak menggurui? Nah, saya rasa pelajaran seperti itu lebih banyak saya dapat di organisasi.
Saya tidak sedang mengklaim bahwa kampus nggak menyediakan nuansa pelajaran seperti itu. Oh, nggak. Sebenarnya sih ada, tapi nggak se-real di organisasi. Bahkan organisasi malah lebih intens dan konsisten untuk menjalin hubungan dengan masyarakat lewat program-program pengabdian yang diadakan.
Bukan hanya itu, lingkungan organisasi pun juga melatih kita untuk mengasah karakter. Pola dari sosial pertemanan akan menumbuhkan kita. Hal tersebut sangat mungkin terjadi, karena kita akan dipertemukan oleh banyak teman dengan latar belakang dan karakter yang berbeda.
Kalau kalian hanya ingin cukup, berlama-lamalah di bangku kelas kampus. Tapi kalau kalian ingin lebih, duduklah di halaqoh organisasi yang bermanfaat. Kedengarannya sedikit lebay, tapi itu memang kenyataan loh ya.
Meski bertumbuh itu bisa dari banyak hal, tapi saya berani mengatakan bahwa yang banyak hal itu hanya ada di organisasi. Artinya, organisasi banyak menyediakan ruang-ruang untuk kita mengasah kemampuan.
Karena sepengalaman saya, organisasi itu adalah tempat berbagi. Berbagi kemampuan soft skill ataupun hard skill. Berbagi pikiran dari bermacam latar belakang. Berbagi pengetahuan yang terkadang jarang dibahas di kampus. Dan satu lagi, berbagi tawa dikala stres kuliah melanda.
Jadi nggak heran, satu atau dua tahun masuk organisasi tiba-tiba pede aja ngomong di depan. Atau nggak, kerangka berpikirnya sudah mulai mulus, karena begitu seringnya teman-teman organisasi mengadakan diskusi.
Arah dari subtema ini sempat saya singgung sedikit di poin pertama. Studi terbaru tahun 2024–2025 mengungkapkan bahwa kapasitas manusia untuk memahami atau mengelola emosi dan berempati itu sudah mengalami penurunan, terutama ketika selesai pandemi COVID-19. Fenomena ini biasa disebut dengan “resesi emosional”.
Akibatnya apa ketika seseorang sudah mulai hilang rasa empati, mengelola emosi, dan rasa memahami? Paling kasarnya adalah kita bukan lagi seperti manusia, tapi seperti hewan.
Maka dari itu, penting bagi kita untuk melatih kecerdasan emosional di samping kecerdasan intelektual, karena hakikatnya yang melekat pada diri manusia adalah hubungan sosialnya.
Lalu apa hubungannya dengan organisasi? Organisasi menjadi replika kehidupan nyata. Dalam organisasi kita akan menemukan apa arti dari persahabatan, komitmen, perjuangan, saling mendukung, dan masih banyak lagi.
Saya sebut dengan replika kehidupan karena sebegitu kompleksnya. Nah, di dalamnya kita akan belajar bagaimana menyikapi dari segala perbedaan karakter dan berusaha untuk menjadi bijak dalam setiap situasi.
Orang cerdas secara intelektual, tapi dia tidak punya kecerdasan emosional, keberadaannya tidak akan lama dalam kehidupan masyarakat. Tapi kalau sebaliknya, meski dia kurang cerdas dalam intelektual, tapi dia punya kecerdasan emosional yang kuat, maka dia akan nyaman dalam hangatnya kehidupan masyarakat.
Dari pengalaman saya ketika masih menjadi mahasiswa dulu, terkadang saya merasa malas ketika sudah terlibat dalam forum diskusi kelas perkuliahan. Pasalnya, sering kali pertanyaan yang dilontarkan jawabannya sebenarnya sudah tersedia di power point. Sebagai seorang presentator, ngapain jawab ulang kan, ya?
Nah, hal-hal seperti inilah yang menarik hati saya untuk lebih asik terlibat dalam diskusi-diskusi yang diadakan organisasi atau bareng teman-teman saat ngopi. Karena secara nggak langsung, kita nggak akan merasa kesulitan kalau pokok pembahasan diskusi itu kita tarik ke kehidupan nyata.
Yang saya sering rasakan dalam diskusi kelas ketika perkuliahan malah sebaliknya, hanya berputar aja di situ. Tapi beda lagi kalau dosen juga ikut nimbrung, ya. Bahkan malah lebih seru. Tapi kalau dosen ikut nimbrung, loh. Kalau enggak, ya mending tidur aja deh.
Nah, dari diskusi yang enjoy itulah saya menemukan kematangan dalam berpikir. Mendengarkan banyak hal dari segala pengetahuan yang dibawa oleh teman-teman organisasi. Simpel tapi daging, itulah yang saya rasakan ketika ikut andil dalam diskusi-diskusi organisasi.
Kenapa semua itu terbangun? Jangan ditanya, karena bacaan bukunya yang masif. Buku adalah jantung organisasi. Saya sangat bersyukur sekali bisa berada di lingkungan organisasi yang cinta akan buku dan diskusi, siapa lagi kalau bukan PK IPNU IPPNU UIN Syekh Wasil Kediri.
Penulis: Kacong Syauqi
Sumber: Freedman JM, Freedman PE, Choi DY, Miller M. The Emotional Recession: global declines in emotional intelligence and its impact on organizational retention, burnout, and workforce resilience.