Alhamdulillah, saat ini kita dipertemukan kembali dengan bulan yang sangat mulia. Bulan Ramadan, bulan yang penuh dengan rahmat. Nggak tanggung-tanggung, nama Sayyidus Syuhur pun dilekatkan pada bulan ini. Pada bulan ini Allah memberikan pahala yang berlipat kepada siapa yang melakukan amal saleh.
Bulan Ramadan adalah kesempatan untuk kita fokus memperbaiki diri. Makanya, banyak orang mengatakan bahwa puasa tidak hanya sarana menahan haus dan lapar, tapi juga menahan nafsu amarah, nafsu lisan, dan pandangan, dan masih banyak lagi.
Nggak hanya itu, ternyata bulan mulia ini juga membuka ruang yang sangat luas untuk pengembangan diri kita di luar aspek spiritual. 30 hari ke depan ini bisa kita jadikan momentum untuk melakukan hal-hal kecil, seperti menambah soft skill yang sering tertunda di bulan-bulan biasa.
Penulis: Kacong Syauqi
Sumber: Salma Qolbi dkk, "Efektivitas Expressive Writing Terhadap Regulasi Emosi pada Mahasiswa" jurnal psikologi, vol 1. no 4. (2025) hlm, 726.
Belum lama ini, kita telah disuguhkan momen yang sangat membahagiakan. Sebuah momen bersejarah peringatan lahirnya IPNU dan IPPNU, organisasi pelajar Islam yang masih langgeng hingga detik ini.
Hingga sekarang, organisasi ini memberikan banyak sekali naungan dan suplai pemahaman Islam yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah di kalangan pemuda-pemudi Indonesia.
Namun, rasanya tidak lengkap jika kita tidak mengenal siapa pendirinya. Ya, seorang tokoh kharismatik yang dikenal dengan julukan “kiai intelektual”. Namanya sangat masyhur di telinga kita semua, terutama para rekan dan rekanita.
Siapa lagi kalau bukan KH. Tholhah Mansur dan istrinya, Nyai Umroh Mahfudhoh. Sepasang tokoh ini kelak menjadi pelopor berdirinya IPNU dan IPPNU. Banyak kisah menarik dari kiai berdarah Madura ini, mulai dari keunikan pribadinya, kisah cinta, hingga perjuangannya di organisasi.
Nah, dalam artikel sederhana ini, kita akan membahas bagaimana perjalanan hidup beliau serta kiprahnya sebagai seorang “kiai intelektual” yang gemar berorganisasi.
Penulis: Kacong Syauqi
Sumber: https://tebuireng.online/kh-m-tholchah-mansoer-sang-intelektual-kiai/
Buku KH. MOH. Tholhah Mansoer (Biografi Profesor NU yang terlupakan)
Menjadi seorang mahasiswa sangatlah menyenangkan. Duduk di kelas, mendengarkan dosen yang sedang ceramah mata kuliah, kemudian pulang dengan beban tugas yang nggak sedikit. Dan siklus itu terus-menerus berputar hingga empat tahun lamanya. Pertanyaannya, apakah itu cukup? Menurut saya pribadi, “enggak”.
Dari pengalaman sekarang, saya jadi banyak menelaah masa lalu ketika masih menjadi seorang mahasiswa. Sempat terpikir, kalau dulu tidak mengambil keputusan itu, mungkin saya tidak akan bisa berada di titik seperti sekarang ini. Ya, semua hal itu ada di luar kampus. Maksudnya adalah organisasi.
Penulis: Kacong Syauqi
Sumber: Freedman JM, Freedman PE, Choi DY, Miller M. The Emotional Recession: global declines in emotional intelligence and its impact on organizational retention, burnout, and workforce resilience.
Al-Qur'an merupakan kitab umat islam, yang dipahami selama ini sebagai Kalamullah dan juga sebagai mukjizat Nabi Muhammad yang paling agung, ternyata mengandung suatu hal yang menarik apabila kita mengkaji lebih dalam apa yang terkandung dalam Al-Qur'an. Salah satu hal yang menarik yakni adanya hal positif yang bersumber atau yang dirasakan ketika kita membaca Al-Qur'an. Bahkan hal tersebut dapat dirasakan pun ketika kita hanya sebatas membaca Al-Qur'an. Apalagi sampai mengetahui makna ayatnya atau bahkan sampai kita mentadabburi ayat ayat Al-Qur'an. Ketika kita membaca Al-Qur'an dengan tanpa melibatkan hafalan, itupun juga dapat menimbulkan perasaan bahagia yang menyebabkan tampaknya aura positif dari seseorang setelah membaca Al-Qur'an.
Nah, dari inilah saya memiliki pendapat, bahwasanya terdapat salah satu hal yang menarik dari hal tersebut. Apalagi perasaan bahagia yang timbul itu, bisa dirasakan seolah olah tanpa sebab. Maka untuk itu saya mencoba menganalisis sumber dari munculnya perasaan bahagia tersebut. Ternyata hal itu bisa dijawab dengan ilmiah dengan memakai 2 pendekatan, yakni dari pendekatan ilmu umum atau filosofis, yang kedua dengan pendekatan ilmu agama atau teologis dan religius.
Penulis: M. Alvin Faiz
Sumber literatur diambil dari: https://catatantafsiralquran.blogspot.com/p/qs-ar-rad-13-28.html