Belum lama ini, kita telah disuguhkan momen yang sangat membahagiakan. Sebuah momen bersejarah peringatan lahirnya IPNU dan IPPNU, organisasi pelajar Islam yang masih langgeng hingga detik ini.
Hingga sekarang, organisasi ini memberikan banyak sekali naungan dan suplai pemahaman Islam yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah di kalangan pemuda-pemudi Indonesia.
Namun, rasanya tidak lengkap jika kita tidak mengenal siapa pendirinya. Ya, seorang tokoh kharismatik yang dikenal dengan julukan “kiai intelektual”. Namanya sangat masyhur di telinga kita semua, terutama para rekan dan rekanita.
Siapa lagi kalau bukan KH. Tholhah Mansur dan istrinya, Nyai Umroh Mahfudhoh. Sepasang tokoh ini kelak menjadi pelopor berdirinya IPNU dan IPPNU. Banyak kisah menarik dari kiai berdarah Madura ini, mulai dari keunikan pribadinya, kisah cinta, hingga perjuangannya di organisasi.
Nah, dalam artikel sederhana ini, kita akan membahas bagaimana perjalanan hidup beliau serta kiprahnya sebagai seorang “kiai intelektual” yang gemar berorganisasi.
Di sebuah kota berhawa sejuk dengan pemandangan pegunungan yang indah, lahirlah seorang anak yang kelak menjadi sosok penting di kemudian hari. KH. Tholhah Mansur lahir pada 10 September 1930 di Kota Malang. Beliau merupakan putra dari KH. Mansoer, seorang ulama masyhur sekaligus pedagang kecil di kota tersebut. Sementara itu, ibundanya bernama Siti Nur Khotijah. Tholhah Mansur adalah anak kedua dari tiga bersaudara.
Ternyata, tidak banyak yang mengetahui bahwa dalam diri Tholhah Mansur mengalir darah ningrat dari sang ibu. Ibu Khotijah berasal dari keluarga ningrat sekaligus saudagar kaya dari Madura. Namun, beliau memilih merantau ke Malang untuk hidup sederhana bersama sang suami.
Sejak kecil, Tholhah Mansur sudah ditempa dengan kedisiplinan oleh sang ayah. Hal itu dibuktikan melalui dua jenjang pendidikan yang ia tekuni, yakni pendidikan umum dan pendidikan agama. Dalam prosesnya, masa remaja Tholhah tidaklah selalu berjalan lancar. Namun, keduanya mampu ia tempuh dengan semangat yang membara.
Ada keunikan yang sangat mencolok saat Tholhah masih kecil. Ia gemar sekali membaca dan dikenal sebagai pelajar otodidak. Kebiasaan itu terus melekat hingga dewasa. Bahkan, konon, beliau tidak segan menjual mobilnya hanya untuk membeli kitab kuning dan buku. Maka, tidak heran, kacamata beliau sangat tebal—setebal buku-buku yang ia sudah baca.
KH. Tholchah Mansoer memulai pendidikan formalnya di Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Nahdlatul Ulama Jagalan, Malang. Di sana, ia diasuh oleh KH. Muhammad Syukri Ghazali dan Kiai Murtaji Bisri yang membentuk dasar keilmuan serta kepribadiannya. Pada usia 17 tahun, ia terjun ke medan perjuangan sebagai sekretaris Sabilillah Malang Selatan. Akibatnya, ia sempat meninggalkan bangku sekolah sebelum akhirnya kembali melanjutkan pendidikan setelah perang usai.
Ia kemudian melanjutkan studi ke Fakultas HESP Universitas Gadjah Mada. Perjalanan kuliahnya dapat dikatakan tidak mulus karena ia juga aktif berorganisasi. Ia sempat berhenti dan baru kembali beberapa tahun kemudian. Meski demikian, ia berhasil menyelesaikan studi sarjana hukum pada 1964. Semangat belajarnya yang kuat serta kegemarannya membaca membawanya meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dalam bidang Hukum Tata Negara pada 1969, dengan disertasi tentang kekuasaan eksekutif dan legislatif di Indonesia.
Di samping pendidikan formal, beliau juga memperdalam ilmu agama melalui para guru ngaji dan pesantren, termasuk saat menimba ilmu di Tebuireng dan Lasem. Perpaduan antara ketekunan akademik, pengalaman organisasi, dan kedalaman ilmu agama inilah yang mengantarkannya menjadi seorang ulama sekaligus Guru Besar Hukum Tata Negara.
Kalau zaman sekarang, melamar seorang perempuan tanpa gelar sarjana, agaknya orang tua pada gengsi, deh. Padahal, yang paling fundamental sebenarnya adalah kesiapan emosional dan finansial yang justru tidak selalu berpijak pada predikat “sarjana”. Nyatanya, tidak semua yang bersarjana mengalami kemulusan dalam kariernya. Maka dari itu, prinsipnya adalah: kalau kita sudah merasa siap, ya gas saja, kan, hehehe.
Seperti halnya KH. Tholhah Mansur. Saat masih remaja, beliau sudah berani mempersunting Nyai Umroh Mahfudhoh, meski belum menyandang gelar sarjana. Bayangkan, Nyai Umroh Mahfudhoh bukan perempuan kaleng-kaleng. Beliau merupakan putri dari kiai besar sekaligus Menteri Agama RI, yakni KH. Muhammad Wahib Wahab.
Tepat pada 5 Desember 1957, beliau sowan untuk mempersunting perempuan yang dicintainya. Awalnya, ada penolakan dari sang ayah. Namun, atas istikharah yang dilakukan Nyai Wahib, beliau akhirnya mengamini hubungan mereka. Tidak tanggung-tanggung, hubungan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari sang kakek, yaitu KH. Abdul Wahab Chasbullah.
Pasangan dua pendiri ini sangat inspiratif. Keduanya menjadi pelopor berdirinya organisasi pelajar NU pada zamannya, meski berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Dari merekalah lahir sebuah organisasi pelajar yang menjadi penggerak generasi Ahlussunnah wal Jamaah.
Dari pasangan KH. Tholhah Mansur dan Nyai Umroh Mahfudhoh, lahir tujuh orang anak. Tiga di antaranya kemudian menjadi tokoh yang menonjol di tengah-tengah masyarakat.
Dalam dunia organisasi, pergelutan beliau sudah dimulai sejak usia remaja. Saat masih duduk di bangku tsanawiyah, beliau pernah menjadi sekretaris Ikatan Murid Nahdlatul Ulama (IMNU) Kota Malang pada 1945.
Setelah itu, pengalaman organisasi berikutnya diperoleh ketika beliau berada di Yogyakarta. Semasa di sana, beliau pernah menjabat sebagai Wakil Departemen Penerangan Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia. Selain itu, beliau juga sempat menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Meski telah menduduki berbagai jabatan di sejumlah organisasi, sebagai kader yang militan dan cerdas, beliau memiliki gagasan besar untuk mendirikan organisasi Islam yang khusus mewadahi pelajar NU. Gagasan tersebut kemudian disampaikan dalam Konferensi Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di Semarang pada 22 Februari 1954. Dari forum itulah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) didirikan.
Selanjutnya, berdasarkan Konferensi III di Kota Solo, Rekan Tholchah dipilih menjadi ketua umum secara aklamasi. Setahun kemudian, tepat pada 2 Maret 1955, menyusul berdirinya Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang dipimpin langsung oleh istrinya tercinta.
“Cita-cita IPNU adalah membentuk manusia berilmu yang dekat dengan masyarakat, bukan manusia calon kasta elit dalam masyarakat.”
Sepenggal pidato KH. Tholhah Mansur ini menjadi titik balik perenungan kita sebagai pelajar sekaligus santri Nahdlatul Ulama. Dalam kalimat pendek tersebut, tampak jelas cita-cita yang diharapkan para pendiri kita, yakni mencetak pelajar atau santri yang berilmu tanpa berlagak elitis dan eksklusif.
Kata “berilmu” dalam penggalan pidato itu, menurut hemat penulis, sangatlah universal. Tidak hanya ilmu yang bersifat agama, ilmu apa pun selama baik dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat sangat dianjurkan untuk dipelajari. Artinya, semangat berilmu bukan sekadar memperkaya diri dengan pengetahuan, tetapi juga menyiapkan diri agar mampu berkontribusi nyata di tengah kehidupan masyarakat.
Dalam konteks itulah, pengetahuan dan kecerdasan yang dimaksud menjadi modalitas utama bagi seorang kader IPNU. Kader IPNU tidak cukup hanya mengetahui, tetapi harus memiliki wawasan yang implementatif—siap pakai dan siap diterapkan. Kecerdasan di sini bukan sekadar kemampuan memahami teori, melainkan kesanggupan mempraktikkan wawasan yang dimilikinya dalam realitas sosial. Melalui dua modalitas inilah, kader-kader IPNU dapat tumbuh sebagai aset transformasi sosial bagi masyarakat yang lebih luas.
ada akhirnya, ilmu yang dimiliki kader tidak berhenti sebagai tumpukan konsep, tetapi mengalir dan menyatu dengan denyut nadi masyarakat. Dari sanalah terbangun masyarakat yang lebih maju, dengan dorongan semangat berorganisasi yang menggebu-gebu dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Namun, ada pesan paling penting yang harus kita camkan bersama: sebagai manusia, jangan sekali-kali membuat kasta yang justru merusak keharmonisan sosial. Tidak sepantasnya kita—apalagi jika sudah ber-IPNU dan IPPNU—merasa naik derajat lalu berlagak elitis dan eksklusif. Tanamkan baik-baik bahwa organisasi ini pada hakikatnya adalah pelayan masyarakat.
Penulis: Kacong Syauqi
Sumber: https://tebuireng.online/kh-m-tholchah-mansoer-sang-intelektual-kiai/
Buku KH. MOH. Tholhah Mansoer (Biografi Profesor NU yang terlupakan)