Alhamdulillah, saat ini kita dipertemukan kembali dengan bulan yang sangat mulia. Bulan Ramadan, bulan yang penuh dengan rahmat. Nggak tanggung-tanggung, nama Sayyidus Syuhur pun dilekatkan pada bulan ini. Pada bulan ini Allah memberikan pahala yang berlipat kepada siapa yang melakukan amal saleh.
Bulan Ramadan adalah kesempatan untuk kita fokus memperbaiki diri. Makanya, banyak orang mengatakan bahwa puasa tidak hanya sarana menahan haus dan lapar, tapi juga menahan nafsu amarah, nafsu lisan, dan pandangan, dan masih banyak lagi.
Nggak hanya itu, ternyata bulan mulia ini juga membuka ruang yang sangat luas untuk pengembangan diri kita di luar aspek spiritual. 30 hari ke depan ini bisa kita jadikan momentum untuk melakukan hal-hal kecil, seperti menambah soft skill yang sering tertunda di bulan-bulan biasa.
Melatih Kemampuan Menulis, Edisi Bulan Ramadan
Siapa yang nggak asing dengan kegiatan satu ini. Menulis adalah kegiatan yang sangat efektif bila kita lakukan di bulan yang mulia ini. Seperti kemarin, teman-teman PK IPNU IPPNU menyalurkan tulisannya dalam sebuah event 30 Hari Bercerita. Ketika membacanya di IG, saya merasa mendapatkan insight bermanfaat dan kadang juga terpingkal dengan kisah lucunya.
Jika ditelusuri lebih dalam, ternyata menulis banyak sekali manfaatnya. Tak ayal, banyak para tokoh, terutama tokoh psikologi, yang menyumbang perspektifnya terkait menulis, seperti James W. Pennebaker. Ia lebih menyinggung manfaatnya dari sisi mental manusia, bahwa kegiatan menulis dapat membantu mengurangi stres dan trauma.
Di bulan Ramadan ini kita akan dihadapkan dengan berbagai cobaan. Yang paling utama sih lapar dan haus. Pastinya kita akan stres ketika menghadapi cobaan-cobaan itu. Apalagi cobaan yang bersifat sosial, beghhh, itu stresnya minta ampun.
Nah, daripada kita mengomel secara langsung, mending kita tuangkan emosi kita ke sebuah buku diary atau lainnya, sembari menunggu buka puasa. Tentunya dengan sistematis dan bahasa yang mengurai, jangan menulis dengan kata-kata kasar yang justru merusak amaliah bulan Ramadan kita.
Tekad Menghatamkan Satu Buku, Edisi Bulan Ramadan
Kalau di hari-hari biasa, kita sering kali lemah dalam hal membaca. Jangankan membaca, menyentuh bukunya saja masih tunggu nanti alias “jarang”. Seperti si penulis yang terlalu banyak pegang HP daripada bukunya. Membaca pun hanya bagian kalimat awal saja, kadang enggan melanjutkannya hingga tuntas, duh.
Namun, di momen Ramadan ini kesempatan itu harus segera diambil. Di bulan ini kita harus bisa menargetkan bacaan buku semaksimal mungkin. Eitss, tunggu. Bukan berarti membaca Al-Qur’an dikesampingkan, ya. Membaca buku adalah prioritas, tapi membaca Al-Qur’an adalah super pioritas.
Mabes menyediakan banyak bacaan dari berbagai genre—mulai dari novel, filsafat, sosiologi, sampai buku pengembangan diri (self-improvement). Kita bisa duduk santai di rumah bersama Mabes itu, dengan satu buku kemudian diskusi sambil menunggu buka.
Mempelajari Bahasa Asing dan Alat Musik, Edisi Bulan Ramadan
Apakah ini terdengar agak berlebihan? Menurut saya nggak sih. Apa salahnya kita mempelajari alat musik dan bahasa asing di bulan suci ini. Mengingat, sekarang kita sedang hidup di zaman modern, kemampuan berbahasa asing sangat diperlukan saat ini. Paling nggak lah kita bisa berucap “yes” dan “no”. Hehehe.
Tapi itulah, teman-teman yang budiman. Mempelajari bahasa asing serta alat musik sangat pas sekali bila kita terapkan di 30 hari ke depan. Emang apa sih untungnya? Saya yakin, setiap hal-hal baik yang dilakukan akan memberikan kebermanfaatan bagi kita kelak. Tapi nggak hanya itu, sini, mari kita jabarkan.
Bayangkan saja, ketika kita mampu menguasai bahasa asing, dalam kurun waktu 30 hari di bulan suci ini, nikmatnya luar biasa. Kita akan terbantu di beberapa hal. Nonton podcast berbahasa asing jadi nggak bingung lagi. Membaca artikel atau jurnal berbahasa asing juga akan lebih mudah. Dengan catatan kalau memang bisa “menguasai”, ya.
Alat musik juga demikian. Melakukan hal yang sebelumnya kita nggak bisa, terus bisa setelah bulan Ramadan, itu sangat membahagiakan sekali. Bisa main gitar atau alat musik rebana menjadi nilai plus di kemudian hari. Siapa tahu, jodoh kita semua bisa nempel karena kelincahan kita bermain alat musik, asekkk.
Latihan Keluar dari Zona Nyaman, Edisi Bulan Ramadan
Poin terakhir ini sebenarnya adalah akar dari beberapa poin di atas: ya keluar dari zona nyaman. Yang sejujurnya, kita semua—termasuk saya—sering kali merasa berat melakukannya. Pasalnya, di bulan Ramadan ini, hari-hari kita kerap dipenuhi rasa capek. Alhasil, pilihan yang paling menggoda biasanya adalah hibernasi: tidur panjang dan menunda banyak hal.
Tapi demi benar-benar keluar dari zona nyaman, mau nggak mau kita harus melawan itu semua sekuat tenaga. Jangan biarkan hari-hari di bulan suci ini menjadi nggak bermakna, hanya lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan yang mendalam.
Solusi paling realistis untuk keluar dari zona nyaman di bulan Ramadan adalah dengan menurunkan standar, tapi menaikkan konsistensi. Nggak perlu target muluk-muluk, cukup satu kebiasaan baru yang dilakukan setiap hari—meski sebentar. Karena di bulan suci ini, perubahan kecil yang konsisten jauh lebih bermakna daripada niat besar yang cuma berhenti di kepala.
Penulis: Kacong Syauqi
Sumber: Salma Qolbi dkk, "Efektivitas Expressive Writing Terhadap Regulasi Emosi pada Mahasiswa" jurnal psikologi, vol 1. no 4. (2025) hlm, 726.